Selasa, 17 Maret 2020

Cerita Korupsi di Dunia Pendidikan

Cerita dari sebuah Negeri Dongeng :

"Lingkungan Pendidikan pun tak luput dari Praktik Korupsi"

***tulisan ini saya dedikasikan dalam rangka Hari Anti Korupsi Internasional, yang diperingati setiap 9 Desember

***Pada tulisan ini saya tidak menyebutkan nama Instansi apapun juga, Jadi buat pembaca yang baper atau merasa tersindir, monggo berliterasi lah dengan bijak, Silahkan buat tulisan-tulisan tandingan, ditunggu.

Part 1

Banyak orang belakangan menyalahgunakan kata "menolong" , membantu, atau memudahkan, sebagai alibi penyalahgunaan kekuasaannya
.

misalnya seorang pejabat publik dengan hebatnya dia menggunakan jabatannya untuk menolong kerabatnya yang ingin anaknya diterima bersekolah di Instansi yang dia pimpin

.

Alih alih menolong kerabatnya itu sang pejabat ini lupa atau pura-pura lupa bahwasanya dia sudah menzolimi puluhan pendaftar lainnya, seleksi masuk (tes) CBT alias tes berbasis komputer yang diselenggarakan agar terlihat keren dan fair padahal hanya formalitas belaka, faktanya dibelakang proses seleksi tersebut tidak ada sistem atau pihak yang benar-benar mengaudit hasil tes tersebut, siapa yang menjawab benar dengan skor tertinggi, benar di point mana dan salah ada di point yang mana, karena hasil hitung-hitungan seperti itu tidak pernah dibuka

.

Eitss... nanti dulu itu belum terlihat cukup profesional bukan? Orang-orang yg kalau kita pandang terlihat begitu mulia ini punya banyak dalih...berbasis rumus dan data, Rumus atau hitung-hitungan cara melakukan seleksi yang diberikan pemerintah sudah begitu komplit, namun tetap saja celah kecurangan selalu ada, dimana itu?? di hasil tes CBT ini, karena data ini diolah oleh orang dalam, orang yang di embankan amanah oleh masyarakat, orang-orang yang tergabung dalam kepanitiaan seleksi mutasi peserta didik. 

Pola-pola seperti ini hampir tidak kentara, kalau kalian bukan orang dalam, kalian tidak akan tahu ini, namun biasanya orang-orang dalam yang ada niatan protes lebih memilih untuk diam, mereka lebih memilih cari aman, sama sama tahu saja, buat apa saling usik, yang penting TKD aku lancar...
.

Bukan begitu... tidak tahu kah kalian atau pura-pura tidak tahu? diluar sana puluhan pasang orang tua peserta didik menunggu penuh harap, harapan mereka anaknya bisa diterima di salah satu SMA Negeri di Ibukota negeri dongeng.
.

 Tahukah kalian para panitia seleksi mutasi yang dihormati banyak orang...? puluhan pasang ibu bapak itu mendaftarkan anak mereka demi meringankan beban biaya sekolah anaknya atau setidaknya lebih dekat dari rumah supaya bisa berhemat, atau paling tidak kebutuhan harian mereka untuk makan bisa tercukupi karena berkurangnya satu pengeluaran biaya pendidikan anak mereka yakni dapat bersekolah di sekolah negeri yang dibiayai pemerintah

"Aaah peduli amat sama mereka orang-orang susah toh saya tidak kenal mereka, yang terpenting kerabat saya bisa masuk dulu dan bersekolah disini di sekolah bapak moyang Gue" itukah yang ada di otak kalian?
.

Kalian berteriak setiap hari meminta anak-anak didik kalian bersifat jujur, sementara diri kalian sendiri merugikan orang banyak dengan ke tidak jujuran kalian.
.

Hari pengumuman hasil tes seleksi masuk tiba, puluhan pasang orang tua itu terbelanga membaca pengumuman, dan pada kolom keterangan nama anak mereka tidak diterima,
tentu saja mereka menerima dengan lapang dada sambil berucap, "belum rejekinya anak saya" , mereka berucap demikian karena mereka tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di dalam, hanya orang-orang dalam lah yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi

Semester demi semester, tahun demi tahun
kejadian ini terus berulang, orang dalam tetap saja diam. pura-pura tidak tahu, memilih diam lebih aman buat mereka. namun pola-nya lama-kelamaan begitu kentara, begitu terlihat jelas, pengumuman demi pengumuman, menggambarkan jelas kecurangan yang mereka lakukan, selalu saja anak-anak orang dalam mendapat kursi prioritas, mereka mendapatkan perolehan nilai tertinggi, dari skor CBT-nya, karena hanya pada point ini lah nilai dapat dimainkan, nilai-nilai yang lain sifatnya sudah tetap. seperti nilai NEM ketika SMP, nilai raport semester sebelumnya dari sekolah asal, sudah tidak dapat dirubah lagi.

.

Belakangan kasus ini marak terjadi di sekolah2 yang berlabel negeri itu, entah negeri apa, mungkin negeri para bedebah seperti sekuel novel Tere Liye , dan bukan lagi kepentingan sekedar untuk kerabat, atau anak2 orang dalam, atau keponakan2 orang dalam, atau anak atau titipan para pejabat sudin, belakangan tindakan KKN ini mulai menyentuh pada tahap "How Much?" berapa besar anda berani membayar?

Sungguh kelakuan orang-orang dalam ini banyak Merugikan anak-anak yang berkompetensi, banyak orang dirugikan, yang belajar mati-matian dibuatnya gagal, yang mampu bayar bisa lulus.

Entah apa yang merasuki para panitia yang katanya digugu dan ditiru ini...?
ini bukan karena mereka tidak paham agama, mereka dengan mudahnya melakukan praktik-praktik curang ini, lebih karena mereka paham betul bagaimana nanti caranya bertaubat.

Sangat disayangkan perilaku KKN di negeri dongeng ini menyentuh hingga  ke bagian akarnya hingga di Sebuah Instansi Pendidikan yang notabene ujung tombak pembentukan karakter generasi negeri, para pelajar yang kelak mengisi jabatan-jabatan penting.


Part 2

Lebih fatalnya lagi jika anak-anak hasil praktik kecurangan itu mengetahui dengan terang-terangan apa yang dilakukan oleh orang tuanya, yakni menghalalkan segala cara... bukankah tanpa disadari anak ini tertanamkan dalam benak pikiran mereka "ah, ternyata di negeri ini semua bisa ya ....asalkan ada uang, buktinya aku bisa diterima" sungguh gawat bukan?


Dan andai anak-anak yang jadi korban kecurangan ini kelak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sungguh sebuah kekecewaan dan kebencian adalah bayaran jadi hukuman sosial kepada para pelaku, mereka cukup pantas dapat label "KORUPTOR"

Korupsi dari hal kecil-kecil tetap saja korupsi, korupsi waktu, juga korupsi, misalnya memanipulasi absensi sidik jari yang katanya di online kan ke dinas, ternyata juga masih bisa dimainkan, bahkan dilakukan secara berjamaah, bukan lagi orang-perorang, duh gusti..
dan parahnya lagi mereka ini melakukannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, mereka melakukannya dengan penuh sukacita.

Belum lagi praktik orang-perorang yang lagi-lagi menyalahgunakan wewenangnya sebagai pemimpin, dengan seenaknya memanipulasi absen kehadirannya sendiri, demi memaksimalkan TKD bulanannya, siapakah bawahannya yang berani komplain..."kok begitu bu?" jangankan komplain bagai kerbau dicucuk hidungnya mereka ikut terlibat langsung dalam praktik memanipulasi absensi ini, tentunya para bawahan ini tak punya asa menentang perintah atasannya, untuk membantu mengabsenkan atasannya dengan alat manipulator absen yang berupa "kartu" yang sudah diseting agar setiap kali kartu itu ditempelkan ke alat absensi sidik jari yang terbaca adalah sang pimpinan ini sudah absen pagi, dan ketika sore ditempelkan di mesin absen sudah absen sore, begitu seterusnya... hingga tak terhitung lagi sudah berapa kali atau sudah berapa lama praktik ini dijalankan.

Apapun alasannya tetap saja ini perbuatan korupsi, baik itu orang-perorang ataupun berjamaah (dilakukan bersama-sama), saya pribadi lebih fair kepada orang-orang yang fair kalau dia datang terlambat, atau dia pulang lebih awal dia absen sesuai keadaan sebenarnya, bahkan saat tidak masuk sekalipun, karena dia sudah sadar betul konsekuensi nya kinerja dia akan dinilai buruk oleh sistem yang berdampak pada dipotongnya TKD bulanannya.

Begitulah sedikit cerita dari dunia pendidikan negeri dongeng, yang selama ini terselubung, tidak kentara, bagi kalian yang berpendapat "ahh itu mah biasa, masak kayak gitu aja dibilang korupsi?"
tetaplah pada pendirian anda, jika anda tidak ada keinginan jadi abdi negara yang baik... dalih anda memang cocok sebagai sebuah pembelaan.

cerita  ini adalah sebuah kisah, entah ini kisah nyata atau malah benar sebuah dongeng, itu hak penulis membuat tulisan, selama penulis tidak menyinggung SARA, dan melakukan praktik yang sama, atau tidak melakukan pencemaran nama baik orang perorang tulisan seperti di atas adalah sah sah saja, yang jadi masalah adalah kadang, saking tidak meleknya orang akan budaya membaca, biasanya baru membaca artikel atau kisah pendek-pendek saja, pembaca seperti ini nantinya yang akan gagal menangkap isi dari sebuah cerita, jadinya malah gagal paham, dan auto baperan.

Dalam dunia literasi ada hubungan yang begitu erat antara membaca dan menulis, jadilah pembaca yang baik, agar kelak dirimu dapat melahirkan karya-karya tulisan berkelas, bukan cuma sebuah status-status alay, yang singkat di media sosial.

bersambung.....
 ke Part 3





Authors: Arif Cahyani Ilyas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar